eunike's posts with tag: baluran
Awalnya adalah BINGUNG!
Bingung mau kemana mumpung punya waktu nganggur. Obsesi sebelum masuk kantor baru, harus jalan-jalan sepuas-puasnya *tragis ga sih ngbayangin ga punya cuti sampai Mei 2009* T___T Alhasil semuuuaa rencana trip yang ada dijajaki; dari divetrip gratis ke Papua ma Tante ‘R’, dream trip to Ambon-Banda Neira ma L, D dan H *yang cuma sampai di wacana*, Ujung Kulon, Volunteering di TNC Wakatobi lagi, phototrip ke Phuket sampai usaha nengokin pacar yang susah dapet visa-nya. Semuanya gagal ato batal dengan sendirinya. Akhirnya info sekilas dari Nisa di suatu siang membawa aku menuju trip yang terberkati ini. Info bahwa bis Jakarta-Sumbawa cuma 400an ribu *umm, mampu lah!* dan cerita tentang lamaran nikah *alah!* dan segala macamnya membangkitkan minatku ke Sumbawa. Di antara padetnya urusan kantor yang mau ditinggal, lembur-lemburan sampai pagi di postpro studio, hunting tiket, menyusun rute, nyocok-nyocokin jadwal dengan lainnya membuat pre-trip ini suatu petualangan tersendiri, adrenalin naik! :D Akhirnya dengan pertimbangan cepat dan mentah dipilihlah rute besar dengan detail tujuan yang tidak ditentukan; MENGALIR SAJA! Jakarta – Jawa Timur (Baluran) – Sumbawa – Lombok – Bali – Jakarta selama 2 1/2 minggu. Harum dan Linda katanya mo nyusul langsung ketika aku di Sumbawa, syukurlah nanti pulang rame-rame ada temennya. Berkat pertama, ternyata meski sudah resign, bonus tahunan tahu-tahu menambah saldo bank *alhamdulilah*. Makin pe-de aku memulai perjalanan sendirian pertama dan terlamaku ini. Jumat, 9 Mei Kemrungsung sebelum berangkat, belanja keperluan trip dan potong rambut dulu. Bagaimanapun ada rasa keder jalan sendiri perempuan semanis ini; merasa perlu berpenampilan lebih gahar dengan potongan rambut cepak kecowo-cowoan :D juga biar praktis dan makin matching dengan keril biru Deuter 70+10 lt punya A’a Arsyad yang dipinjem malam sebelumnya. Jam 2 di terminal Rawamangun, rasanya semua mata tertuju kepadaku dan keril besar yang tersandang *perasaanku sendiri saja sih, maklum.. narsis akut*. Bus Safari Jurusan Jakarta – Malang terlambat dan batal lewat Rawamangun, aku dipindahkan sementara ke bis Jakarta – Denpasar untuk nantinya ganti bis di Indramayu. Jalan sendiri ternyata sangat menyenangkan, rasanya ingin terus tersenyum. Entah karena akhirnya aku melakukannya atau karena memang banyak kebaikan yang datang kemudian. Salah satu kebaikan itu adalah pertemanan baru yang spontan. Dari supir bis Safari dan mekaniknya yang menemani duduk dan ngobrol banyak tentang jalan darat ke Lombok dan Sumbawa * diajak makan di meja supir; gratis!* sampai teman sebangku asli Padang, yang sedang mengejar beasiswa S3 di Unbra. Percakapan apapun, rasanya nyambung. Sabtu, 10 Mei Perjalanan tidak seperti yang dijadwalkan. Info bahwa akan lewat di Sukorejo, Pasuruan jam 7-8 pagi ternyata salah! Mungkin rute bukan utara bikin lama; lewat Solo – Ngawi – Madium – Mojokerto – Surabaya – Porong – Pasuruan. Padahal rencananya aku ingin sabatan bareng keluarga di sana. Jam 1-an baru aku sampai Lawang dan langsung dijemput ipar jauh, masih sempet ikut makan siang dan memberi salam kepada keluarga yang lagi ngumpul. Pertanyaan yang sama dari semua; “Mau kemana? Sendiri? HAH, SENDIRI?! Ga takut? Untuk apa sih?” rasanya perempuan yang backpacking sendirian dilihat seperti alien saja. Di Sukorejo menginap semalam sekalian bersilahturami dengan keluarga besan ortuku ini, juga sempet dapet info menarik tentang penambang belerang di gunung Wilerang dan rutenya. Minggu, 11 Mei Sarapan pagi sudah tersedia; Rawon mantabz dan tempe penyet yang sambelnya cucok di lidah! Perjalanan Sukorejo – Malang lebih dari 30 menit ditempuh dengan ngegonceng motor sambil ngegembol keril yang baru ditambahin bahan makanan untuk di Baluran. BUERAAT, bo!! Menyesal khilaf packing karena space tas yang begitu besar; sampai-sampai payung, kotak-kotak koleksi tanah yang biasanya ditinggal bahkan pelubang kertas kubawa. Dari terminal Arjosari, Malang naik bis Patas AC jurusan Probolinggo. Sepi dan nyaman! Aku duduk di deret bangku paling belakang. Keril di belakang jok bisa diawasi, lalu aku pun tidur selonjoran dengan nyaman. Probolinggo – Banyuwangi (turun di Batangan, Baluran) tersedia banyak bis reguler dengan AC *Angin Cemiliirrr*, bangku format 2-3 yang hampir selalu penuh dan kebiasaan berhenti di setiap terminal. 4 jam sudah relatif cepat. Cukup sering penumpang disuruh turun ganti ke bis lainnya. Yang repot adalah pembawa keril 70+10 liter macam aku ini! :D tapi biar kelihatan tangguh, dengan sigap aku melompati bis (“bus-hopping”, terjemahan bebas. Red). Jam 17.00 tiba di Bekol, mata hari mulai turun. Pak Hendri, Polhut kenalan yang baik hati, sudah menunggu. Dengan Megapro-nya, kami cari makan di pinggiran Banyuwangi, mampir ke camping ground baru di kawasan TN Baluran lalu selama 1/2 jam menempuh 12 km jalan jelek Batangan – Bekol, pos utama tempat tamu menginap. Malam itu di Bekol cuma ada 2 orang polhut jaga dan aku. Sementara yang lain tidur di Pos, aku dipersilahkan menginap di Mess Polhut, SENDIRIAN aja gitu!! Sepi beneer, suara serangga saja yang terdengar, GELAP pula! Jam 10 jenset dimatikan. Senter ketinggalan di kamar, aku menuju mess berjalan kaki sendiri dengan bantuan cahaya bulan dan doa-doa. Deg-degan juga karena ga pernah sesepi ini di Jakarta. Ketika mendekat ke mess, tiba-tiba keras suara, “QUIIIIK!!” aku dan rusa sama-sama terkejut! Serombongan kecil rusa tampaknya sedang mencari air di dekat mess. Mereka buru-buru lari menuju savanna. Satu ekor sempat berhenti menunggu reaksiku, beberapa kali menguik dengan keras lalu pergi. Terkejut juga senang, jadi ngerti mengapa mereka dipanggil BARKING DEER! Rusa yang menggong-gong? Pengalaman yang lengkap hari ini ditutup dengan pergumulan batin. Begitu sepinya suasana malam itu, membuat hatiku serasa menggumpal; bukan takut atau cemas, hanya sensasi yang aneh. Bergumul antara menyalakan MP3 atau menyatu dengan alam. Malam itu MP3 yang menang. Senin, 12 Mei Jam 4.30 bangun mengejar sunrise, berbekal sweater rangkep jaket dan tripod, aku berjalan ke tower bekol, dingin dan berangin sekali. Sunrisenya kurang istimewa tapi menyenangkan juga sendirian di atas ketinggian. Banyak pikiran melintas. Di Baluran matahari bangun lebih awal, jam 5 sudah terang lalu sunset jam 17-an. Sesudah terang, goncengan dengan pak Hendri menuju Bama plus rute akasia yang sama dengan tahun lalu. Arah angin kurang menguntungkan. 2 rombongan rusa yang ditemui keburu kabur mencium harumku sebelum aku sempat memotret cukup dekat. Katanya lagi banyak Ajak, anjing liar pemangsa sehingga rusa cenderung membentuk kelompok kecil. 105 hektar lahan sudah berhasil dibersihkan dari Acacia nilotica a.k.a Acacia arabica, tapi itu pun porsi sangat kecil dibanding luasnya penyebaran gulma pendatang ini. Di pantai Bama baru saja dibangun dermaga sepanjang 25 meter yang menembus hutan bakau. Meski belum dibuka untuk umum, aku diajak mengunjunginya. Ujung dari dermaga itu semacam pondokan yang nyaman untuk melihat sunset di laut. Dari kejauhan gradasi air laut hijau dan biru tampak meski tidak terlalu jelas, sementara di bawah dermaga cenderung coklat karena gelombang mengaduk lumpur pantai Bama. Tidak jauh dari dermaga menancap pohon Bakau yang sangat besar, mungkin terbesar yang ada di Indonesia *kata pak Hendri*. Rupanya sendiri sudah tidak seperti sebuah pohon bakau, hanya daunnya yang mengingatkanku bahwa dia adalah bakau. Pulang dan break-lunch yang dipersiapkan pak Tri, polhut pemenang lomba masak 17an tahun kemaren lalu leyeh2 sambil chatting dan cek email (GPRS indosat sudah On di Bekol). Nikmat bener hidup ini! Jam 14.15, diajak touring ma pak Hendri. Kali ini rute yang menantang dan bukan konsumsi turis; Bekol – Bama – Balanan – Simacan – Masigit – Sirondo. Ini hasil debat provokatif malam sebelumnya, Baluran ga mau kalah sama Sumbawa. Usaha pembuktian pak Hendri bahwa Baluran juga punya bukit-bukit savanna yang cantik. Aku mah gumbira aja diajak motor-motoran! Mana tinggal gonceng dan cuma ga boleh nurunin kaki sesulit apapun medannya. Perjalanan 2,8 km Bekol – Bama berasa ga ada artinya, dibanding 4 km Bama – Balanan; jalur yang SERU buangeed! Wuiih, belum pernah n aik motor segila-gilaan ini! Jalan selebar 15-30 cm yang terbentuk dari lintasan motor patroli ini melewati berbagai macam ekosistem dan menyediakan sensasi yang beda-beda; dari pantai yang pasirnya bikin motor ngesot-ngesot, hutan bakau yang basah dan remang-remang *habitat macan kumbang*, bekas sungai kering dengan batu-batu vulkanik besar yang grunjal-grunjal *kali ini aku disuruh turun*, hutan pantai yang cabang-cabang pohonnya rendah *merunduk abiees tapi tetep ngebut* sampai tebing yang kirinya terjal ke laut..oya, juga savanna dengan rumput-semak yang menempel dan menggores kulit, rumputnya bisa setinggi bahuku kalau berdiri. Tempat tujuan jadi ga penting lagi, karena perjalanannya sendiri adalah petualangan. Lupa ngeliat jam, saking sibuk menghayati pengalaman baru ini, tapi kira-kira 1-1,5 jam perjalanan motor ke titik trekking untuk naik sedikit ke bukit. Rumput di bukit lebih gelo lagi; setinggi orang! Berhenti sebentar untuk memotret, pak Hendri langsung hilang dari pandangan. Baluran sisi ini memang berbukit-bukit, savanna yang kuning dihiasi pohon-pohon hijau. Lebih banyak pohonnya dibanding savanna di Komodo. Semakin cantik dengan awan sore yang lucu, khas – persis seperti yang memukauku tahun lalu. Dari bukit Balanan mampir ke rumah-rumah penduduk di Simacan dan Sirondo, kampung para bekas pekerja eks-HGU tahun 90-an. Masalah pemukiman di dalam kawasan taman nasional ini sedang ditangani pihak TN. Seperti biasa, selalu dilematis. Suasana sunset dari pantai Sirondo cantik, lagi-lagi awan unik itu. Perjalanan pulang lebih seru lagi, gelap dan makin sulit. Sekali ketemu masyarakat yang sedang mencari hasil alam dan Bapak Polhut pun melakukan pengecekan *berasa ikut liputan sergap deh!* :D Dalam perjalanan mendekati Bekol tertangkap suara yang berbeda, WaaAA!! I was so LUCKY! Ada 2 banteng jantan jarak 20-30 meter dari jalan yang kami lewati. FYI *pamer*, Banteng ini binatang yang “priyayi” dan sangat peka. Mereka jauuh sulit ditemui dibanding rusa ataupun merak. Aku beruntung menyaksikan mereka tanpa harus berjam-jam “nyanggong” di malam hari di atas pohon setinggi lebih dari 5 meter dengan tidak bersuara. Malam itu pun aku tidur nyenyak sendirian tanpa MP3 player lagi. Selasa, 13 Mei Cuaca masih juga cerah, langit biru, cahaya pagi kuning dan cantik! Ayo foto narsis di savanna! Ga ada rekan fotografer bukan masalah, ada tripod dan sweater orange yang gonjreng! Dari awalnya bersemangat sampai kecapean sendiri bolak-balik lari antara kamera untuk pasang timer dan titik pose untuk melompat *phuwh!* niat amat ya! Tapi setelah itu santai-santai! Leyeh-leyeh! Nyuci-nyuci baju kotor! Chatting-chattingan, sampai tarik-tarikan tas kamera ma macaca kurang ajar! Siang rencananya diajak pergi ke Candibang untuk melihat ekosistem yang lain di Baluran, berhektar LONTAR yang menjulang. Sayangnya, pak Hendri kudu rapat dan balik ke Bekol terlambat. Ga masalah! Ada buku “The Art of Loving” untuk dibaca, nyamannya angin Baluran yang terus meniup setiap sudut Bekol, pohon MIMBO, pohon PILANG ataupun pohon SANTEN yang khas dan cantik. Juga pemandangan gunung Baluran di alas savanna. Menjelang sore aku masih sempat berburu foto merak dan awan di savanna. Malam terakhir tidur di mess Bekol, MP3 sudah masuk tas.Dia kalah telak. Rabu, 14 Mei Setelah hunting ringan dan makan pagi, jam 10an oleh pak Hendri, polhut yang paling bersemangat membuat tamu betah di Baluran, diantarlah aku ke Batangan untuk cari bis ke Surabaya. Ga masalah naik bis reguler selama 7 jam dengan Rp. 32.000 saja asal dapet posisi strategis yang kena banyak angin. Apalagi bonus cakue dan bolang-baling dari kenek bis yang ramah dan baik hati.
Bakal banyak dipertemukan orang-orang baik hati lainnya, tapi udah panjang banget ni catper.. -bersambung- **foto-fotonya ada di http://inikeke.multiply.com/photos/album/53#
|  | Ciberang - Sempu - Baluran, July 2007
Lomo Fisheyes + 2 fuji superia ISO 200 + unexpected filters on PS = MUUCH FUN!! *thx to mas Rori for the camera! :) *masih boleh perpanjang ijin pinjamnya? :p |
|  | July 22-23, 2007
I won’t be surprised now whether people called Baluran National Park the little Africa in Java Island. The next destination after Sempu gave me many similar sights as I used to see in TV or book about Africa and its savannah.
The Baluran National Park is located in Desa Wonorojo, Banyu Putih district, Situbondo, East Java. It occupies about 25 hectares including monsoon forest, ever-green forest, natural savannah desert, thick mangrove forest and sea (did saw those kind of forest and their significant difference) . Baluran mountain (1,247 metres high) is now non-active, but public isn’t allowed to hike to.
To reach Baluran National Park (BNP) was quite easy. Batangan, the entrance gate is located just in the left side of pantura big road to Banyuwangi. Bringing no car, you could book BNP’s truck/ jeep to pass 12 kilometers “poor” road to Bekol station (but by prior confirmation). We arrived at 02.30 a.m. and had to wait a few hours in Batangan since we gave no prior booking/coming confirmation to the officer :p but it was ok! There one or two 24 hours warung for a cup of coffee or sleep a while near the entrance gate. Regular bus would be too big to pass the low down trees, but our mini bus was allowed heading to Bekol station.

Arriving at Bekol station after 50 minutes riding the bus, we were greeted by many wild Macacas and dramatic morning ray of lights. Bekol was the BNP tourism-research center. It had enough facilities such resorts (3 type of pesanggrahan here), mosque, clean water and lavatory, information center, musholla, gathering hall and more. You just need to order first to stay since the rooms not always available.

The Pesanggrahan/ resort was fairly nice, comfy and clean enough; but be careful to the macacas that could get into the house. Make sure you lock the door/window/room and put foods in safe place. Also there was a 6 meters watching tower placed in a peak next to our resort, where we could widely see the BNP area, from the forests, savannah, mountain to the sea.
Unloading all our stuff, bathing, cooking our very late breakfast (since none kept in mind to bring gases out from the bus that leaving us), we had muuuch break time for narscis “futu2” time; also fun experimental shooting with the lomo fisheyes!! (plz wait for a while when it is printed. I’ll add them later). This trip was easy and very loose! No many destinations as we used to have for a trip. I dunno why but seem the time went so slowly during this trip. Umm…. Doesn’t good thing swiftly pass?
Visiting BNP meant we had chances for wildlife watching; from wild buffalos, wild bulls, deers, antelopes, wild boars, panthers, mangrove and wild cats, to 147 species of birds, such uli-uli, peacocks, and jungle fowls. But seem we were not that lucky to see those all!! :p At 03.40 p.m., we were going to do what we were there for (messy wording! Bingung ga, loe! :p); trekking and snorkeling! The group was divided into two teams; some just head to Bama beach (2,8 kilometers from Bekol) by bus for snorkeling and sunset while the rest did trekking for animals watching with a longer distance.
I chose trekking for sure! Since watching animal was my mission and my biggest interest *even I had to defy Paketu, hehehe peace! v(^ - ^) v mas yudi!* but for sure better to obey! It was just about proper outfit to do trekking in BNP. Pak Henry, our knowledgeable and kind guide, advised us to wear proper outfits such long shirt, trousers, shoes (even I had only “sandal gunung” and 7/8 trousers), and hat! Those were to keep you safe from thorny vegetations, kutu babi/louse, and probably snakes!
The trekking was relatively easy; sloping path easily noticed from Bekol station to Acasia forest (watch your step to avoid the thorns). The problem was just about time, thorns, and a naughty bunch of photographers. I was next to Pak Henry always in frontline, so I got a lot of new knowledge about the plants and animals, but then… as I stepped out from the tight Acasia forest to a bare land whose dramatic scenes suddenly bumped to my eyes, I was getting behind and more. Just a few minutes Pak Henry and other trekkers were swallowed by the tall grass of savannah, disappeared from my sight. WOW! I got lost!!
The bare area was Acasia arabica killing field. This plant was introduced into BNP in 1964 as fire barricading medium. Getting widen quite quickly and disrupting the savannah ecosystem, BNP tries to control its growth.
Back to the lost me.. I was not alone! :p Roni, Harum, Yadi, Sony, Didiek, Putu, Vero, Tyo, and Andri were engaged taking pictures, too. LOL. The scenes were too precious to just leave behind. The coming sunset brought warm nuance to the blue sky, emphasized the beautiful shape of the clouds and perfectly matched with the vast yellow savannah. About 1 hours trekking without a guide, we still had a lot fun!! kept laughing but taking care each other, too. But yep! We lost a chance to see wild animals as the sun set down. Dark already but we knew we were on the right track. Later, we met Pak Henry not far from main road to Bama beach and other ones in Bama.
Going back to Bekol by bus, we passed a big group of wild deer. Too bad it was already dark to clearly see or to take pictures. But…
Lucky me!! i got the second chance to visit the same track and took a lot pictures of wild deers and peacocks in the next morning! Hurray!! \(^ -^)/ In the night after we had our dinner, was Pak Henry that offered to all of us to do “nyanggong” (waiting on hidden tree house to watch wild bull drinking in very late night for min. 4 hours – max only for 3 person) or riding his motorcycle next morning to see wild deer groups (only for one person). Ummm.. Seem other else too shy or too sleepy to catch the offer, but I did! :p
After waking up early at 04.30 and having sunrise from Bekol tower, I tried my luck to watch and take pictures of the wild animals. Just a few minutes leaving Bekol, I already saw a bunch of female peacock. They were flying away when I got close, the same reaction as the second bigger group with a beautiful male peacock. We did broke up a very big group of wild deers as we passed them. Some in my left, some in my right, some behind me, some in front of, cautious and hiding between the Acasia. I love this moment! They all were staring at me, watching me even my lil movement. Female deers were more cautious than Rangga, the big male ones. As she sounded a short “quik” voice, quickly the group left me. umm.. they were beautiful!
Very happy to get this chance! And much happier to visit Baluran National Park again.. some day…
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Summary
Malang – Batangan, Situbondo 5-6 hours by bus
Only Simpati cellular phone number has signal in BNP. But it may drop sometimes.
Batangan – Bekol station 12 kilometers poor road 40-50 minutes Booking the BNP truck 200,000 IDR/ return way
Entrance ticket Foreign 20,000 IDR Domestic 2,500 IDR Student 1,250 IDR 2 wheel vehicle 3,000 IDR 4-6 wheel vehicle 6,000 IDR
Bekol station – Bama beach 2.8 kilometers, 20 minutes by bus 2 hours trekking thru savannah
Best time for animal watching 05.00 a.m. (seeking food, bathing, etc) 04.00 p.m. (having a rest under trees)
Bekol Resort 25,000 IDR/person 7,500 IDR for meal/person Mostly BNP electricity by solar cell Black out at 10.00 p.m 150,000 IDR for fuel to keep the electric after 10.00 p.m.
Guide fee 75,000 IDR/day
Souvenirs T shirt 25-30,000 IDR Pin 5,000 IDR
For further information: Baluran National Park (banyuwangi office) Jl. K.H. Agus Salim 132 Banyuwangi 68425 tnbaluran@telkom.net P. +62 333 424119
Situbondo office P. +62 333 461107
Or email me to get Pak Henry or other forest ranger/officer's number ;)
|
| |