Blog EntryEAST JAVA to SUMBAWA; a Blessed Trip IMay 29, '08 6:34 AM
for everyone

Awalnya adalah BINGUNG!

  Bingung mau kemana mumpung punya waktu nganggur. Obsesi sebelum masuk kantor baru, harus jalan-jalan sepuas-puasnya *tragis ga sih ngbayangin ga punya cuti sampai Mei 2009* T___T Alhasil semuuuaa rencana trip yang ada dijajaki; dari divetrip gratis ke Papua ma Tante ‘R’, dream trip to Ambon-Banda Neira ma L, D dan H *yang cuma sampai di wacana*, Ujung Kulon, Volunteering di TNC Wakatobi lagi, phototrip ke Phuket sampai usaha nengokin pacar yang susah dapet visa-nya. Semuanya gagal ato batal dengan sendirinya. Akhirnya info sekilas dari Nisa di suatu siang membawa aku menuju trip yang terberkati ini. Info bahwa bis Jakarta-Sumbawa cuma 400an ribu *umm, mampu lah!* dan cerita tentang lamaran nikah *alah!* dan segala macamnya membangkitkan minatku ke Sumbawa.

  Di antara padetnya urusan kantor yang mau ditinggal, lembur-lemburan sampai pagi di postpro studio, hunting tiket, menyusun rute, nyocok-nyocokin jadwal dengan lainnya membuat pre-trip ini suatu petualangan tersendiri, adrenalin naik! :D Akhirnya dengan pertimbangan cepat dan mentah dipilihlah rute besar dengan detail tujuan yang tidak ditentukan; MENGALIR SAJA! Jakarta – Jawa Timur (Baluran) – Sumbawa – Lombok – Bali – Jakarta selama 2 1/2 minggu. Harum dan Linda katanya mo nyusul langsung ketika aku di Sumbawa, syukurlah nanti pulang rame-rame ada temennya.

  Berkat pertama, ternyata meski sudah resign, bonus tahunan tahu-tahu menambah saldo bank *alhamdulilah*. Makin pe-de aku memulai perjalanan sendirian pertama dan terlamaku ini.
 
Jumat, 9 Mei
  Kemrungsung sebelum berangkat, belanja keperluan trip dan potong rambut dulu. Bagaimanapun ada rasa keder jalan sendiri perempuan semanis ini; merasa perlu berpenampilan lebih gahar dengan potongan rambut cepak kecowo-cowoan :D juga biar praktis dan makin matching dengan keril biru Deuter 70+10 lt punya A’a Arsyad yang dipinjem malam sebelumnya.

   Jam 2 di terminal Rawamangun, rasanya semua mata tertuju kepadaku dan keril besar yang tersandang *perasaanku sendiri saja sih, maklum.. narsis akut*. Bus Safari Jurusan Jakarta – Malang terlambat dan batal lewat Rawamangun, aku dipindahkan sementara ke bis Jakarta – Denpasar untuk nantinya ganti bis di Indramayu.
  Jalan sendiri ternyata sangat menyenangkan, rasanya ingin terus tersenyum. Entah karena akhirnya aku melakukannya atau karena memang banyak kebaikan yang datang kemudian. Salah satu kebaikan itu adalah pertemanan baru yang spontan. Dari supir bis Safari dan mekaniknya yang menemani duduk dan ngobrol bany
ak tentang jalan darat ke Lombok dan Sumbawa * diajak makan di meja supir; gratis!* sampai teman sebangku asli Padang, yang sedang mengejar beasiswa S3 di Unbra. Percakapan apapun, rasanya nyambung.

Sabtu, 10 Mei
  Perjalanan tidak seperti yang dijadwalkan. Info bahwa akan lewat di Sukorejo, Pasuruan jam 7-8 pagi ternyata salah!  Mungkin rute bukan utara bikin lama; lewat Solo – Ngawi – Madium – Mojokerto – Surabaya – Porong – Pasuruan. Padahal rencananya aku ingin sabatan bareng keluarga di sana. Jam 1-an baru aku sampai Lawang dan langsung dijemput ipar jauh, masih sempet ikut makan siang dan memberi salam kepada keluarga yang lagi ngumpul. Pertanyaan yang sama dari semua; “Mau kemana? Sendiri? HAH, SENDIRI?! Ga takut? Untuk apa sih?” rasanya perempuan yang backpacking sendirian dilihat seperti alien saja. Di Sukorejo menginap semalam sekalian bersilahturami dengan keluarga besan ortuku ini, juga sempet dapet info menarik tentang penambang belerang di gunung Wilerang dan rutenya.

Minggu, 11 Mei
  Sarapan pagi sudah tersedia; Raw
on mantabz dan tempe penyet yang sambelnya cucok di lidah! Perjalanan Sukorejo – Malang lebih dari 30 menit ditempuh dengan ngegonceng motor sambil ngegembol keril yang baru ditambahin bahan makanan untuk di Baluran. BUERAAT, bo!! Menyesal khilaf packing karena space tas yang begitu besar; sampai-sampai payung, kotak-kotak koleksi tanah yang biasanya ditinggal bahkan pelubang kertas kubawa.
    Dari terminal Arjosari, Malang naik
bis Patas AC jurusan Probolinggo. Sepi dan nyaman! Aku duduk di deret bangku paling belakang. Keril di belakang jok bisa diawasi, lalu aku pun tidur selonjoran dengan nyaman.
  Probolinggo – Banyuwangi (turu
n di Batangan, Baluran) tersedia banyak bis reguler dengan AC *Angin Cemiliirrr*, bangku format 2-3 yang hampir selalu penuh dan kebiasaan berhenti di setiap terminal. 4 jam sudah relatif cepat. Cukup sering penumpang disuruh turun ganti ke bis lainnya. Yang repot adalah pembawa keril 70+10 liter macam aku ini! :D tapi biar kelihatan tangguh, dengan sigap aku melompati bis (“bus-hopping”, terjemahan bebas. Red).
  Jam 17.00 tiba di Bekol, mata
hari mulai turun. Pak Hendri, Polhut kenalan yang baik hati, sudah menunggu. Dengan Megapro-nya, kami cari makan di pinggiran Banyuwangi, mampir ke camping ground baru di kawasan TN Baluran lalu selama 1/2 jam menempuh 12 km jalan jelek Batangan – Bekol, pos utama tempat tamu menginap.
    Malam itu di Bekol cuma ada 2 orang polhut jaga dan aku. Sementara yang lain tidur di Pos, aku dipersilahkan menginap di Mess Polhut, SENDIRIAN aja gitu!! Sepi beneer, suara serangga saja yang terdengar, GELAP pula! Jam 10 jenset dimatikan. Senter ketinggalan di kamar, aku menuju mess berjalan kaki sendiri dengan bantuan cahaya bulan dan doa-doa. Deg-degan juga karena ga pernah sesepi ini di Jakarta. Ketika mendekat ke mess, tiba-tiba keras suara, “QUIIIIK!!” aku dan rusa sama-sama terkejut! Serombongan kecil rusa tampaknya sedang mencari air di dekat mess. Mereka buru-buru lari menuju savanna. Satu ekor sempat berhenti menunggu reaksiku, beberapa kali menguik dengan keras lalu pergi. Terkejut juga senang, jadi ngerti mengapa mereka dipanggil BARKING DEER! Rusa yang menggong-gong?
  Pengalaman yang lengkap hari ini ditutup dengan pergumulan batin. Begitu sepinya suasana malam itu, membuat hatiku serasa menggumpal; bukan takut atau cemas, hanya sensasi yang aneh. Bergumul antara menyalakan MP3 atau menyatu dengan alam. Malam itu MP3 yang menang.

Senin, 12 Mei
  Jam 4.30 bangun mengejar sunrise, berbekal sweater rangkep jaket dan tripod, aku berjalan ke tower bekol, dingin dan berangin sekali. Sunrisenya kurang istimewa tapi menyenangkan juga sendirian di atas ketinggian. Banyak pikiran melintas. Di Baluran matahari bangun lebih awal, jam 5 sudah terang lalu sunset jam 17-an.
  Sesudah terang, goncengan dengan pak Hendri menuju Bama plus rute akasia yang sama dengan tahun lalu. Arah angin kurang menguntungkan. 2 rombongan rusa yang ditemui keburu kabur mencium harumku sebelum aku sempat memotret cukup dekat. Katanya lagi banyak Ajak, anjing liar pemangsa sehingga rusa cenderung membentuk kelompok kecil. 105 hektar lahan sudah berhasil dibersihkan dari Acacia nilotica a.k.a Acacia arabica, tapi itu pun porsi sangat kecil dibanding luasnya penyebaran gulma pendatang ini.
   Di pantai Bama baru saja dibangun dermaga sepanjang 25 meter yang menembus hutan bakau. Meski belum dibuka untuk umum, aku diajak mengunjunginya. Ujung dari dermaga itu semacam pondokan yang nyaman untuk melihat sunset di laut. Dari kejauhan gradasi air laut hijau dan biru tampak meski tidak terlalu jelas, sementara di bawah dermaga cenderung coklat karena gelombang mengaduk lumpur pantai Bama. Tidak jauh dari dermaga menancap pohon Bakau yang sangat besar, mungkin terbesar yang ada di Indonesia *kata pak Hendri*. Rupanya sendiri sudah tidak seperti sebuah pohon bakau, hanya daunnya yang mengingatkanku bahwa dia adalah bakau.
   Pulang dan break-lunch yang dipersiapkan pak Tri, polhut pemenang lomba masak 17an tahun kemaren lalu leyeh2 sambil chatting dan cek email (GPRS indosat sudah On di Bekol). Nikmat bener hidup ini!
   Jam 14.15, diajak touring ma pak Hendri. Kali ini rute yang menantang dan bukan konsumsi turis; Bekol – Bama – Balanan – Simacan – Masigit – Sirondo. Ini hasil debat provokatif malam sebelumnya, Baluran ga mau kalah sama Sumbawa. Usaha pembuktian pak Hendri bahwa Baluran juga punya bukit-bukit savanna yang cantik. Aku mah gumbira aja diajak motor-motoran! Mana tinggal gonceng dan cuma ga boleh nurunin kaki sesulit apapun medannya. Perjalanan 2,8 km Bekol – Bama berasa ga ada artinya, dibanding 4 km Bama – Balanan; jalur yang SERU buangeed! Wuiih, belum pernah naik motor segila-gilaan ini! Jalan selebar 15-30 cm yang terbentuk dari lintasan motor patroli ini melewati berbagai macam ekosistem dan menyediakan sensasi yang beda-beda; dari pantai yang pasirnya bikin motor ngesot-ngesot, hutan bakau yang basah dan remang-remang *habitat macan kumbang*, bekas sungai kering dengan batu-batu vulkanik besar yang grunjal-grunjal *kali ini aku disuruh turun*, hutan pantai yang cabang-cabang pohonnya rendah *merunduk abiees tapi tetep ngebut* sampai tebing yang kirinya terjal ke laut..oya, juga savanna dengan rumput-semak yang menempel dan menggores kulit, rumputnya bisa setinggi bahuku kalau berdiri. Tempat tujuan jadi ga penting lagi, karena perjalanannya sendiri adalah petualangan.  Lupa ngeliat jam, saking sibuk menghayati pengalaman baru ini, tapi kira-kira 1-1,5 jam perjalanan motor ke titik trekking untuk naik sedikit ke bukit. Rumput di bukit lebih gelo lagi; setinggi orang! Berhenti sebentar untuk memotret, pak Hendri langsung hilang dari pandangan.
   Baluran sisi ini memang berbukit-bukit, savanna yang kuning dihiasi pohon-pohon hijau. Lebih banyak pohonnya dibanding savanna di Komodo. Semakin cantik dengan awan sore yang lucu, khas – persis seperti yang memukauku tahun lalu.
   Dari bukit Balanan mampir ke rumah-rumah penduduk di Simacan dan Sirondo, kampung para bekas pekerja eks-HGU tahun 90-an. Masalah pemukiman di dalam kawasan taman nasional ini sedang ditangani pihak TN. Seperti biasa, selalu dilematis. Suasana sunset dari pantai Sirondo cantik, lagi-lagi awan unik itu.
   Perjalanan pulang lebih seru lagi, gelap dan makin sulit. Sekali ketemu masyarakat yang sedang mencari hasil alam dan Bapak Polhut pun melakukan pengecekan *berasa ikut liputan sergap deh!* :D
  Dalam perjalanan mendekati Bekol tertangkap suara yang berbeda, WaaAA!! I was so LUCKY! Ada 2 banteng jantan jarak 20-30 meter dari jalan yang kami lewati. FYI *pamer*, Banteng ini binatang yang “priyayi” dan sangat peka. Mereka jauuh sulit ditemui dibanding rusa ataupun merak. Aku beruntung menyaksikan mereka tanpa harus berjam-jam “nyanggong” di malam hari di atas pohon setinggi lebih dari 5 meter dengan tidak bersuara.
    Malam itu pun aku tidur nyenyak sendirian tanpa MP3 player lagi.

Selasa, 13 Mei
  Cuaca masih juga cerah, langit biru, cahaya pagi kuni
ng dan cantik! Ayo foto narsis di savanna! Ga ada rekan fotografer bukan masalah, ada tripod dan sweater orange yang gonjreng! Dari awalnya bersemangat sampai kecapean sendiri bolak-balik lari antara kamera untuk pasang timer dan titik pose untuk melompat *phuwh!* niat amat ya! Tapi setelah itu santai-santai! Leyeh-leyeh! Nyuci-nyuci baju kotor! Chatting-chattingan, sampai tarik-tarikan tas kamera ma macaca kurang ajar!
   Siang rencananya diajak pergi ke Candibang untuk melihat ekosistem yang lain di Baluran, berhektar LONTAR yang menjulang. Sayangnya, pak Hendri kudu rapat dan balik ke Bekol terlambat. Ga masalah! Ada buku “The Art of Loving” untuk dibaca, nyamannya angin Baluran yang terus meniup setiap sudut Bekol, pohon MIMBO, pohon PILANG ataupun pohon SANTEN yang khas dan cantik. Juga pemandangan gunung Baluran di alas savanna. Menjelang sore aku masih sempat berburu foto merak dan awan di savanna. Malam terakhir tidur di mess Bekol, MP3 sudah masuk tas.Dia kalah telak.


Rabu, 14 Mei
  Setelah hunting ringan dan makan pagi, jam 10an oleh pak Hendri, polhut yang paling bersemangat membuat tamu betah di Baluran, diantarlah aku ke Batangan untuk cari bis ke Surabaya. Ga masalah naik bis reguler selama 7 jam dengan Rp. 32.000 saja asal dapet posisi strategis yang kena banyak angin. Apalagi bonus cakue dan bolang-baling dari kenek bis yang ramah dan baik hati.

   Bakal banyak dipertemukan orang-orang baik hati lainnya, tapi udah panjang banget ni catper.. -bersambung-

**foto-fotonya ada di http://inikeke.multiply.com/photos/album/53#


Blog EntryBertamu ke Tangkoko, Bertemu TangkasiMar 13, '08 12:21 AM
for everyone

Jangan bertanya seperti apa rasanya saat pertama kali bertatap muka dengan tangkasi (nama lokal Tarsius spectrum), primata ter-imut sedunia. Sangat menyenangkan! Karena sekalipun masih berpeluh seluruh badan, rasa lelah setelah perjalanan panjang tiba-tiba hilang tergantikan perasaan terpesona, bergairah dan ingin tahu.

Demi melihat primata endemik Sulawesi ini, kami harus melalui rute yang tidak singkat. Menumpang bus umum selama 1,5 jam dari Paal II Menado ke terminal Tangkoko di Bitung, lalu turun di Girian untuk melanjutkan perjalanan dengan “oto open cap” (kendaraan umum dari mobil dengan bak belakang terbuka yang dimodifikasi agar bisa memuat banyak penumpang) selama lebih dari satu jam. Untungnya saat ini jalan menuju Taman Nasianal Tangkoko tidak lagi menyakitkan punggung, masih berliku-liku tapi cukup mulus beraspal. Dengan oto open cap, kami tiba tepat di depan pintu masuk ke Taman Nasional Tangkoko.

Taman Nasional Tangkoko adalah rumah bagi banyak spesies, bukan hanya bagi 328 jenis burung yang 47 jenis di antaranya adalah endemik, tapi khususnya terkenal sebagai tempat tinggal yaki (Macaca nigra), kuskus (Phalanger ursinus) dan tangkasi (Tarsius spectrum) yang khas dan unik. Rumah satwa yang luasnya 8.718 Ha ini meliputi beragam ekosistem, dari pantai, hutan hingga pegunungan. Ada tiga gunung berapi yaitu gunung Tangkoko dan puncak kembar Dua Saudara.

Belum masuk ke dalam hutan, sambutan kicau burung sudah terdengar. Kami makin bersemangat untuk segera menyusurinya. Saat itu hari sudah sore, tangkasi akan segera keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Di antara langkah-langkah yang tergesa, sesekali guide menunjuk beberapa jenis burung yang hinggap di pohon dekat jalan setapak. Waktu yang tersisa sangat sedikit, tapi terasa nikmat berada di dalam hutan.

Akhirnya setelah menempuh jarak 4 mil yang remang, guide menunjuk satu pohon beringin besar sambil berbisik, “Ssttt, di sini tempatnya, bicara pelan-pelan..”. Tangkasi pertama pun terlihat. Mata bundar tangkasi sangat besar, telinganya lebar, terus bergerak-gerak dan sangat sensitif. Langkah perlahan kami pun terdeteksi. Segera tangkasi pertama tersebut masuk kembali ke lubang pohon, sarangnya. Tapi tak lama kemudian, naluri mencari makan mendorong beberapa tangkasi melompat keluar. Selama beberapa menit tangkasi-tangkasi tersebut bergantung diam di cabang-cabang dekat rumah pohon mereka, seakan-akan sengaja memberi waktu kepada kami untuk beramah tamah, diamati dan dipotret. Mempesonakan manakala mereka menengok kepada kami karena tangkasi bisa memutarkan kepala nyaris 180 derajat. Saat diam, posisi tubuh mereka begitu teguh. Jari-jari yang panjang memungkinkan tangkasi menempel erat pada cabang-cabang pohon. Uniknya, sementara jari-jari lain berkuku biasa, jari kaki kedua dan ketiga tangkasi berkuku panjang melengkung, berfungsi untuk membersihkan diri.

Sebelum mereka hilang dalam sekelebatan, setidaknya kami sudah melihat lima ekor tangkasi dewasa. Dengan kaki belakang yang panjangnya dua kali panjang badan dan kepala, tangkasi-tangkasi itu melompat begitu tinggi dan sangat cepat dari satu pohon ke pohon yang lain. Mereka hilang dari pandangan.

Selagi kami mulai menyadari rasa lelah dan ingin segera kembali ke penginapan, tangkasi yang nokturnal sedang aktif-aktifnya bergerak, berburu makanan seperti semut, kumbang kepik, ngengat, kecoak, kadal, kelelawar, ular, dan burung. Selagi kami membaringkan badan dan tertidur, tangkasi sedang menjelajahi teritorinya dengan lompatan-lompatan yang ringan dan jauh.

Mimpi indah malam itu adalah pemandangan tangkasi yang hidup bebas di habitatnya, rumah hutan yang lestari.

(April 2006, laporan perjalanan untuk buletin Suara Primata)


Blog EntryTravelers' MERCHANDISES - Kelana Nusantara 2007Nov 12, '07 10:30 PM
for everyone

tersedia PIN-PIN yang unik dan lucu, sangat cocok untuk pecinta traveling seperti kamu.
PIN-PIN ini tersedia dalam 2 jenis/ser
i, yaitu:

PIN SERI ID/ IDENTITAS
Pin ini memuat berbagai identitas berdasarkan minat-minat para traveler!!
ID01 --- Traveling Photographer
ID02 --- Weekend Wanderer (tukang jalan di hari Sabtu dan Minggu)
ID03 --- Eco Diver

ID04 --- Traveling BLOG writer
ID05 --- Wildlife Lover
ID06 --- Off Road Maniac
ID07 --- Nature Trekker
ID08 --- Addicted Climber
ID09 --- Food Hunter
ID10 --- Mountain Hiker

PIN SERI LOKASI:
setema dengan kaos seri 3. Pin ini memuat lokasi-lokasi wisata di Indonesia yang paling sering dikunjungi atau paling ingin dikunjungi. Jadikan penanda bahwa kamu pernah melakukan perjalanan di lokasi-lokasi tersebut atau menjanjikan dirimu sendiri untuk mengunjunginya satu saat nanti! Lokasi-lokasi tersebut antara lain:
LKS01 --- Raja Ampat, Papua

LKS02 --- Mentawai, West Sumatra
LKS03 --- Semboja, East Borneo
LKS04 --- Komodo Island, East Nusa Tenggara
LKS05 --- Cartenz Pyramid, Papua
LKS06 --- Tana Toraja, South Sulawesi
LKS07 --- Bunaken, North Sulawesi
LKS08 --- Bromo Mt., East Java
LKS09 --- Bali, Indonesia
LKS10 --- Kepulauan Seribu
Pin-pin ini sangat cocok menjadi aksesoris kaos Klanus seri 3.


FILOSOFI KAOS KLANUS SERI 3 (http://infoklanus.multiply.com/photos/album/9/)

Dibalik desain dan pilihan aneka merchandise Kelana Nusantara 2007 yang menarik, terdapat keterkaitan semua merchandise-nya lho! Artinya, merchandise sengaja dibuat dalam satu kesatuan tema. misalnya pin-pin lokasi selain bisa digunakan sendirian sebagai pernak-pernik atau aksesoris lucu di tasmu, juga sangat cocok untuk menandai peta yang terpampang di kaos Kelana Nusantara seri 3.


Keterangan lebih lanjut dan cara pemesanan:
Pin-pin --> http://infoklanus.multiply.com/photos/album/12/
Kaos dkk --> http://infoklanus.multiply.com/photos/album/8/



Blog EntryTagged! Tagged! Tagged! :DOct 2, '07 4:10 AM
for everyone
aaaah, now you got me......so...here we go!
8 random fact about kekeuw!

  1. Being a vegetarian since in elementary school to last semester in college; berhenti dan mulai ga vege dengan ikan/white meat karena ngerasa malnutrisi akibat ga bisa ngatur menu sendiri *jauh dari rumah dan orang tua..hahaha… :p
  1. Kekeuw, as a girl, never has piercing, but ever wants a tattoo..
  1. Ga pernah, ga suka, ga pengen ngrokok.
  1. Minus >1 tapi ga suka pake kacamata (apalagi ngecek minusnya nambah berapa) *jadi harap maklum klo ga senyum pas papasan di jalan.
  1. Menyukai dan membenci makanan karena teksturnya… kekeuw hates to eat banana or avocado for her life as she could remember… *keripik pisang yang crunchy masih boleh laah…
  1. punya banyak pengalaman “kebetulan yang terencana”. Thx to God!
  1. sangat suka ice cream, binatang liar, hujan, dan tidur!!
  1. …pengen jatuh cinta.

I was tagged by galiharisto. Now I'm tagging:
1. Rur!
2. Linda
3. om Roni
4. Rowaldimutku
5. Sonson
6. Reynold
7. Harum
8. Bang Christoffel

Tag Rules:
  1. Each blogger must post these rules
  2. Each blogger start with random facts or habits about themselves
  3. Blogger that are tagged need to write on their own blog about eight things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose eight people to get tagged and list their names.
  4. Don't forget to leave them a comment telling them they've been tagged to read your blog.

Blog Entry5 Factor Personality ProfileJun 25, '06 7:28 AM
for everyone
you may read. and also try..
you may think it right but may you not..
why should you (or i) believe that so easy-quick quiz tells who you are..
created by someone you dont know, and doesnt know you..

questioning....why..we are people..like to be defined?






Your Five Factor Personality Profile



Extroversion:



You have medium extroversion.

You're not the life of the party, but you do show up for the party.

Sometimes you are full of energy and open to new social experiences.

But you also need to hibernate and enjoy your "down time."



Conscientiousness:



You have medium conscientiousness.

You're generally good at balancing work and play.

When you need to buckle down, you can usually get tasks done.

But you've been known to goof off when you know you can get away with it.



Agreeableness:



You have high agreeableness.

You are easy to get along with, and you value harmony highly.

Helpful and generous, you are willing to compromise with almost anyone.

You give people the benefit of the doubt and don't mind giving someone a second chance.



Neuroticism:



You have low neuroticism.

You are very emotionally stable and mentally together.

Only the greatest setbacks upset you, and you bounce back quickly.

Overall, you are typically calm and relaxed - making others feel secure.



Openness to experience:



Your openness to new experiences is high.

In life, you tend to be an early adopter of all new things and ideas.

You'll try almost anything interesting, and you're constantly pushing your own limits.

A great connoisseir of art and beauty, you can find the positive side of almost anything.


Blog EntryMet Mr Alain Compost; rethinking of my calling..Feb 6, '06 12:26 AM
for everyone

On end of December 2005

No seek, but I got surprising information about ALAIN COMPOST, wildlife photographer that has big concern in Indonesia nature conservation. He would give a short class about conservation photography and multimedia in Schmutzer Primate Center.

Somehow, for a moment, I was reminded that I ever wished to be like him; do a profession based on what I love (nature and animal), it may be my calling (actually I still don’t know what my calling is, I just wish wildlife will call me someday...).

So with big enthusiasms, I look for more information to join Alain's free workshop. I sent an email to Schmutzer officer, message thru multiply, or any way, I told some friends to join the class and set a plan to go with them (indeed I will still come even just me).

But having those efforts to come to the class, my creative director’s calling (that I was selected to participate “24 hours” Young Guns Competition) made me merely not be able to come to Alain’s class. Disappointed, I was. For several days, I wish not to participate the young guns, but I couldn’t. I’d gave my partner my word before I knew Alain’s class, and a word is a must.

Well, I didn’t come, but I sent Mr. Alain Compost a set of postcard. (Lucky me to have friends that came, specially mas Sony that gave it to Mr. Compost). Then it’s true, when you see a door closed, another door is just open. Without an intention, I know mas Koes from Schmutzer (Hahaha.. perhaps since I was too “aggressive” to ask about the class). A lot of discussion, share and learning I got. Moreover, a SMS came from Mr. Compost; my card was responded! (My cards if arranged in order would told a question "bla..bla..how to be a wildlife artist?". ) His first SMS was,

if you want to be a wildlife artist.. Love wildlife first, do it for a purpose and be ready to accept that everything you do might not be enough to stop the destruction of the nature you love so much.

Somehow it seem not encouraging for me, but I know what he said was true. I’m getting to understand it by involving the “heavy” discussion yesterday (actually I was much listening than being active). Mas Koes and I visited Mr. Compost’s house in Bogor, we met Mr. Compost and mas Salim from Wanamedia. They were such people who do, live, breath in same land; nature conservation. They started the discussion with topic they know well. But I wasn’t and I don’t. It was hard enough (but I love challenges) to understand whole conversation at the time!! Hehehe.. There were too much info, from new people names, institutions, places, idioms to many facts, opening eyes-things... 

but I’m glad I was there! I thank! It may be a new start for…for.. I don’t know what for...

i just brought to home,
a homework,
rethinking of my calling...

another side of the story on comic --> http://inikeke.multiply.com/photos/album/6


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help